Kenali Jenis-Jenis Objektif Marketing dalam Membuat Campaign

Kenali Objektif Marketing dalam Membuat Campaign
Kenali Objektif Marketing dalam Membuat Campaign

Influencer marketing adalah strategi yang semakin diminati banyak brand. Faktanya, menurut Influencer Marketing Hub (2021), 90% orang setuju bahwa influencer marketing adalah strategi marketing yang efektif. Selain itu, menurut survey Trust Barometer (2019), 61% orang dapat memercayai review atau rekomendasi dari influencer yang memiliki banyak kesamaan dengan mereka.

Namun, sebelum mulai bekerja sama dengan influencer dalam campaign, penting untuk mengetahui objektif atau tujuan dari campaign tersebut. Tanpa objektif yang jelas, brand akan kesulitan menyusun campaign yang efektif dan mengevaluasi kesuksesan dari campaign yang dijalankan.

Sumber: Partipost

Dengan komunitas yang terdiri dari 550.000+ influencer, Partipost telah membantu brand untuk mencapai berbagai objektif marketing. Objektif yang paling umum dimiliki oleh brand yang telah bekerja sama dengan kami berada dalam tingkatan purchase funnel seperti gambar di atas.

Purchase funnel adalah ilustrasi tahapan yang dilalui seorang calon pelanggan sampai ia menjadi pelanggan setia suatu brand. Mari mempelajari objektif ini satu per satu!

1.       Awareness

Awareness (kesadaran) adalah objektif paling pertama dalam purchase funnel. Karena itu, awareness paling sering digunakan sebagai objektif bagi brand baru. Namun, ini tidak menutup kemungkinan bahwa brand lama pun ingin membangun awareness. Misalnya, jika brand lama ingin meluncurkan produk baru ataupun mendongkrak pengenalan akan produk dengan performa yang kurang baik, awareness adalah objektif yang cocok untuk digunakan.

Ada banyak cara membangun awareness lewat influencer marketing campaign. Karena tujuan utamanya adalah agar orang lain tahu soal adanya produk atau brand Anda, elemen paling jelas dalam campaign awareness adalah menunjukkan produk, jasa, atau apapun itu yang diluncurkan oleh brand Anda dalam konten yang dibuat influencer. Konten tersebut bisa berupa foto maupun video. Pada tahap ini, review yang detail soal produk belum dibutuhkan. Selain itu, Anda pun bisa bereksperimen dengan penggunaan filter khusus di Instagram atau TikTok untuk membuat campaign Anda semakin mudah diingat.

Baca Juga: 4 Jenis Campaign yang Bisa Meningkatkan Awareness

2.       Traffic

Traffic atau familiarity adalah objektif tahap kedua dalam purchase funnel, tepat setelah awareness. Campaign dengan objektif traffic tidak lagi sekedar bertujuan membuat orang sadar atau tahu akan hadirnya brand Anda. Dengan objektif ini, diharapkan target audiens akan semakin familiar dengan Anda dan mengambil tindakan. Seperti namanya, campaign dengan objektif traffic mendatangkan orang banyak kemanapun yang Anda inginkan, baik itu website, landing page, atau app.

Dalam campaign dengan objektif ini, biasanya influencer akan menyelipkan ajakan pada audiens sesuai brief yang diberikan. Menyertakan kode referral juga merupakan strategi yang baik untuk campaign ini sehingga audiens akan lebih terdorong untuk mengambil tindakan.

3.       Consideration

Berikutnya, kita sampai pada objektif consideration. Bayangkan audiens sudah mengenal brand Anda dan terdorong untuk membuka website atau app Anda. Berikutnya, tentu Anda ingin memperbesar kemungkinan mereka membeli produk atau jasa Anda, bukan?

Objektif consideration juga merupakan tahap penting karena di sinilah seorang calon pelanggan mempertimbangkan apakah ia akan membeli produk Anda. Campaign untuk objektif consideration biasa dibuat dalam bentuk testimonials. Testimonials adalah konten singkat dimana influencer memberikan kesan mereka menggunakan produk Anda.

4.       Purchase

Objektif berikutnya adalah purchase atau pembelian. Tahap ini tentu berbeda dengan semua tahap sebelumnya karena tujuan akhirnya harus berupa sales yang berhasil. Karena itu, dibutuhkan campaign dalam bentuk review. Berbeda dengan tiga objektif sebelumnya, pada tahap ini, konten yang dibuat oleh influencer harus lebih detail, jelas, dan lengkap sehingga audiens semakin mengerti mengapa mereka harus membeli produk Anda. Campaign dalam format video adalah ide yang baik untuk objektif ini karena video memberi kesempatan untuk influencer me-review brand Anda secara lebih leluasa, jelas, dan autentik.

5.       Loyalty

Tahap paling akhir dalam purchase funnel adalah loyalty atau kesetiaan pelanggan. Tentunya, ini adalah goal yang didambakan setiap brand. Pasalnya, menurut teori Pareto, 80% penjualan brand berasal hanya dari 20% pelanggan. Karena itu, sangat jelas bahwa loyalty pelanggan harus ditumbuhkan dan dipertahankan.

Untuk membangun loyalty dengan bantuan influencer marketing campaign, Anda dapat menjalankan ongoing influencer program dimana Anda bekerja sama dengan influencer tertentu selama jangka waktu yang cukup lama. Jadi, influencer akan membuat konten tentang produk Anda secara berkala, sehingga audiens mereka pun melihat bahwa influencer ini rutin menggunakan produk Anda sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Dengan begitu, brand Anda pun akan semakin tertanam dalam pikiran mereka dan mereka akan terdorong untuk terus melakukan pembelian berulang.

Baca Juga: Komunitas Influencer Partipost

Jadi, itu dia 5 objektif marketing yang biasa digunakan brand sebagai acuan dalam menentukan jenis influencer marketing campaign yang dibuat. Bagaimana dengan Anda? Objektif mana yang jadi prioritas Anda hari-hari ini?

Partipost adalah influencer marketing solution terbesar di Indonesia. Kami dapat membantu Anda mencapai objektif marketing dengan mengelola keseluruhan program influencer dalam satu tempat! Temukan lebih dari 550.000 influencer di platform kami dan ciptakan campaign yang paling cocok dengan brand Anda di berbagai negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Filipina. Hubungi kami hari ini!

Contact Us

Leave a comment

Your email address will not be published.